Sosial Grup pada Perempuan Terinfeksi HIV dalam Peningkatan Kualitas Hidup



By: Khairunnisa Nuraini R
Published : October 4, 2011 at 4:51am

Kualitas hidup orang terinfeski HIV ditentukan indek kualitas hidup, indek ini secara konkrit mengukur kebutuhan OTH, terutama faktor sandang, papan & pangan. Yang paling penting bagaimana OTH bisa beraktivitas dan menghasilkan uang diatas standart. Namun kualitas hidup dipengaruhi oleh banyak factor, salah satu diantaranya adalah factor social yaitu stigma dan diskriminasi oleh lingkungan maupun keluarga. Secara formal pengertian dari diskriminasi menurut UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan ‘Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan secara langsung maupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengangguran, penyimpangan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individu maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, dan aspek kehidupan lainnya.’ Orang terinfeksi HIV (OTH) seringkali memperoleh stigma dan diskriminasi baik dari keluarga, teman maupun masyarakat setelah status mereka banyak diketahui orang sekitar.. Hal ini tentu saja hanya akan memperburuk kondisi para OTH itu sendiri karena pada dasarnya OTH memerlukan dukungan moral baik dari keluarga, teman, lingkungan maupun masyarakat. Stigma sering kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan pada gilirannya akan mendorong munculnya pelanggaran HAM bagi OTH dan keluarganya dan tidak menutup kemungkinan kualitas hidup para OTH menjadi semakin menurun karena kurangnya dukungan social. Dan dari data-data yang ada, kasus wanita terinfeksi HIV semakin lama semakin meningkat. Sehingga stigma yang timbul terhadap wanita itu semakin besar, jumlah wanita OTH itu sendiri sekitar 32 persen dari keseluruhan jumlah OTH, dan kasus pada ibu rumah tangga lebih besar didapat dibandingkan dengan PSK, yaitu 456:370 (sampai tahun 2010). Lokasi yang pernah terdengar adanya stigma dan diskriminasi di Kec. Kenjeran, kec. Keputih, kec. banyu urip & Kec. Krian.

Kecamatan Kenjeran adalah sebuah wilayah di surabaya bagaian utara dengan mata pencarian penduduknya sebagaian besar nelayan dan rendahnya tingkat pendididkan. Karakteristik nelayan jika mendapatkan tangkapan ikan yang melimpah akan digunakan pesta pora mengunjungi hotspot-hotspot prostitusi.

Kecamatan keputih adalah salah satu wilayah termiskin di surabaya timur dengan tingkat perekonomian sebagian besar adalah di bidang pertambakan. Wilayah religius ini tingkat pendidikannya rendah. Dengan berkembangnya kampus ITS di wilayah keputih mempengaruhi tingkat urbanisasi sehingga terjadi percampuran budaya yang membawa dampak tindakan-tindakan negatif di kalangan anak muda. Di keputih banyak terjadi kasus hamil di luar nikah dan kabar terakhir 13 orang meninggal over dosis.

Kecamatan banyu urip adalah wilayah terdampak HIV AIDS dikarenakan wilayah wilayah ini ada tempat prostitusi terbesar di indonesia yaitu Dolly. Masyarakatnya sebagaian besar adalah masyarakat urban dengan tingkat kriminalitas yang lumayan tinggi.

Kecamatan Krian Sidoarjo adalah daerah pertanian yang telah menjadi daerah urban dikarena banyak tumbuh banyak pabrik-pabrik besar. Namun, pendidikan yang ada di sana bisa dikatakan rendah untuk informasi.

Seperti yang telah dijelaskan sedikitnya pada bagian pertama, diskriminasi dan stigma yang terjadi pada wanita OTH kurang lebih yaitu karena kurangnya informasi tentang penularan dan pencegahan HIV itu sendiri, adanya budaya pemikiran dimana mereka yang terkena HIV positif merupakan perempuan nakal, adanya budaya patriarki dimana yang namanya hidup social yaitu hidup dengan norma yang sesuai dengan budaya tersebut, ada pula dari budaya agamisnya dimana orang sudah memandang apapun alasannya OTH sangatlah bertentangan dengan agama karena menurut mereka cara penularannya yang sangat buruk, selain itu factor pendidikan juga mengakibatkan stigma dan diskriminasi terjadi karena dari pendidikan yang rendah sangat memungkinkan apabila sudut pandang mereka rendah mengakibatkan melihat semuanya menjadi rendah juga. Dilihat dari beberapa hal penyebab dari masalah diatas, bisa dilihat apabila kurangnya sosialisasi tentang HIV di perkumpulan-perkumpulan yang ada dalam kecamatan tersebut seperti PKK atau karang taruna. Selain itu tidak adanya NGO yang menawarkan social grup secara keseluruhan yang tidak dibeda-bedakan dalam lingkungan tersebut. Dan perempuan OTH sendiri tidak memiliki kelompok untuk saling berbagi yang akhirnya membuat perempuan OTH menjadi lemah.

Permasalahan stigma dan diskriminasi pada perempuan OTH seringkali terjadi karena kultur masyarakat yang belum terbuka belum bisa menerima alasan apapun tentang sebab terinfeksinya mereka sehingga mereka berpikir negative terlebih dahulu dan menimbulkan diskriminasi-diskriminasi kepada para OTH itu sendiri. NGO yang ada pun belum dapat menjangkau wilayah tersebut dengan menawarkan social grup tanpa memandang status terinfeksi atau tidak. Sebenarnya dalam masyarakat terdapat perkumpulan-perkumpulan yang bisa dijadikan wadah sebagai tempat aspirasi atau saling keterbukaan, menghargai, informasi, atau apapun kebutuhan dalam wialayah tersebut, sebut saja PKK dan karang taruna. Dalam perkumpulan itu kita bisa selipkan informasi-informasi tentang HIV maupun dinamikanya. Kita juga bisa memberikan diskusi-diskusi tentang dinamika hidup seperti diskriminasi di lingkungan yang dikaitkan dengan penyakit-penyakit atau suatu hal yang biasa dianggap umum itu buruk.

dalam kelompok-kelompok yang sudah ada dalam masyarakat, masih ada kekurangan tentang isu HIV contohnya:

1. Karang Taruna 
 
Karang taruna adalah sebuah kelompok atau organisasi masyarakat yang beranggotakan pemuda-pemudi dengan beragan aktivitas. Lingkup karang taruna beragam dan mulai daerah yang terkecil seperti kampung atau bisa sampai kabupaten. Anggota karang taruna adalah pemuda yang pembatasan usia nya mulai 12 tahun hingga 40 tahun. Orang yang lebh tua pun boleh ikut asalkan masih memiliki semangat anak muda. Dalam pencegahan HIV AIDS, peran karang taruna sangat efektif. Hal ini dikarenakan beragamnya anggotanya dan posisi kontrol karang taruna di sebuah wilayah.

2. PKK
 
PKK ini sangat efektif dalam salah satu penanggulangan HIV AIDS dikarenakan anggotamya adalah ibu-ibu dan gadis remaja. Perempuan memiliki peran yang besar di dalam keluarga dikarenakan sistem keluarga masyarakat indonesia sebagaian besar masih menganut paham patriaki, perempuan yang mengurus anak dan tinggal di rumah. Jadi perkembangan anak terpengaruh besar oleh seorang ibu. Jika ibu memiliki pemahaman yang baik tentang HIV AIDS, maka akan dapat mempengaruhi laju perkembangan HIV AIDS.

isu ini menimbulkan keprihatinan dari berbagai sisi seperti kesehatan dan HAM. dan penyebab yang sangat terlihat signifikan dalam permasalahan ini yaitu kemiskinan, maka dari itu tumbuhlah ide-ide segar seperti adanya sosialisasi akan informasi HIV, adanya pelatihan-pelatihan untuk pemberdayaan yang mengarah pada kualitas hidup, mengadakan acara diskusi film atau buku yang membahas tentang permasalahan diskriminasi dan stigma, mengadakan bakti social untuk sesame seperti dibidang kesehatan atau perekonomian, adanya suport grup yang mendukung meningkatan kualitas hidup dan hal lain yang belum disebutkan.

Categories: ,

Leave a Reply