MANAJEMEN STRESS BAGI OTH
By: Khairunnisa Nuraini R
July 12, 2011 at 3:22pm
Pada
27 Mei 2011 di ruang 307 Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya
telah diadakan seminar yang bertema the spirit of HIV dengan
menghadirkan pembicara Yudha Novianto dari Jaringan Orang Terinfeksi HIV
Indonesia dan Rachmat Hargono dosen FKM Unair yang sekaligus koordinator komite
Forum Jejaring Peduli AIDS. Disini saya mulai tergelitik untuk mencoba membahas
tentang OTH (Orang Terinfeksi HIV) dan Manajemen Stess. Perlu diketahui
sebelumnya bahwa HIV (Human Immunodeficiency Virus) dalam beberapa tahun ini
masih belum ditemukan obat penyembuhnya membawa stigma dan diskriminasi bagi
orang yang terinfeksi.
Virus
yang sebagian besar disebabkan oleh prilaku seks bebas atau penggunaan narkoba
jarum suntik ini oleh masyarakat dimunculkan sebuah pandangan yang
mengakibatkan adanya pengucilan kepada orang terinfeksi HIV. Masyarakat masih
menganggap bahwa OTH adalah kutukan tuhan yang mengakibatkan banyak
tindakan-tindakan kekerasan seperti pengusiran dari lingkungan tempat tinggal.
Tindakan-tindakan
stigma dan diskriminatif yang dilakukan oleh masyarakat yang belum memahami
secara benar apa itu HIV AIDS merupakan poin penting yang dapat membunuh OTH.
Dengan berjalannya waktu fungsi imun OTH semakin menurun dan mulai ada
tanda-tanda berhubungan dengan HIV seperti ruam-ruam kulit, penurunan berat
badan, sesak napas, dan sebagainya, kecemasan serta depresi dapat timbul lagi.
Hal ini juga disertai dengan gagasan bunuh diri, gangguan tidur yangg dalam
ilmu psikologi disebut dengan tahap depresi.
HIV
AIDS dan Prilaku Stress
Menurut
data Kemenkes sampai dengan 30 September 2010 secara kumulatif jumlah kasus
AIDS yang dilaporkan sebanyak 22.726 kasus tersebar di 32 provinsi. Kasus
tertinggi didominasi usia produktif yaitu usia 20-29 tahun (47,8%), diikuti
kelompok umur 30-39 tahun (30,9%), dan kelompok umur 40-49 (9,1%). Dari jumlah
iu, 4.250 kasus atau 18,7% diantaranya meninggal dunia. Sementara kasus
terbanyak dilaporkan dari Provinsi DKI Jakarta, diikuti Jawa Barat, Jawa Timur,
Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara,
dan Riau
Perilaku
stress seseorang yang terinfensi virus HIV pada tahap awal mengalami penyangkalan
dan isolasi. Orang terinfeksi HIV pada usia dewasa awal tidak mau
menerima dan mempercayai apa yang dikatakan dokter atau hasil lab. Mereka
mengganggap semua itu adalah sebuah kesalahan dan saya tidak patut untuk
mendengarkannya. Mereka menganggap tertular HIV tidak mungkin secepat itu.
Apalagi adanya rasa malu ketika menyandang statur HIV + saat berkumpul dengan
komunitas atau masyarakat sekitar. Penyangkalan hanya sebuah bentuk dari emosi
yang dialami seseorang yang dirinya terdapat virus HIV.
Tahapan
selanjutnya yaitu Kemarahan.yang mengganggap bahwa dunia tidak adil
kepada dirinya. Setelah lelah dengan kemarahan yang terjadi selanjutnya adalah
proses tawar menawar. Mereka juga membuat janji akan taat atau patuh
kepada tuhan/roh/kekuatan terbesar yang dia percayai agar diberi
kesembuhan/mukjizat terhadap penyakit ini.
Ketika
tahap tawar menawar tidak memuaskan dan hanya mimpi belaka, akhirnya terjadi depresi.
Depresi jika berkelanjutan akan menambah buruk rasa sakit yang
dideritanya. Menurunnya motivasi untuk hidup dapat mempengaruhi sistem imun
dalam dirinya sehingga orang terinfeksi HIV di usia dewasa awal mudah mengalami
penurunan kondisi tubuh. Selanjutnya dengan keadaan yang sulit untuk dirubah,
akhirnya mereka dapat menerima keadaan dengan pasrah. Keadaan menerima
dirinya terinfeksi HIV banyak dipengaruhi oleh banyak hal dan yang paling utama
adalah motivasi dari keluarga dan orang-orang sekitarnya.
Manajemen
stress bagi OTH
Memahami
stres adalah sebuah kondisi yang dihasilkan seseorang ketika transaksi
lingkungan mengarahkan individu untuk menerima kesenjangan, baik itu secara
nyata maupun tidak, antara tuntutan dari sebuah situasi dan sumber baik berupa
biologis, psikologis atau sistem sosial yang dimiliki oleh individu tersebut.
Pengalaman stres juga bisa dikatakan merupakan proses mental dalam diri
seseorang yang terdiri atas dua macam, yaitu tuntutan yang mengancam diri
seseorang dan sumber yang tersedia untuk mengatasi tuntutan tersebut.
Orang
terinfeksi HIV dan prilaku stres memiliki hubungan yang erat sehingga untuk
terlepas dalam prilaku stress dibutuhkan manajemen stress. Intervensi lewat
manajemen stres yaitu memodifikasi bagaimana individu memproses dan mengatasi
tekanan untuk membantu meringankan penderitaan dan memfasilitasi penyesuaian
dan penahan dampak stres pada sistem kekebalan tubuh.
Langkah
pertama dalam mengelola stres Anda adalah dengan memahami diri Anda
sendiri. Anda harus bertanya pada diri sendiri dengan beberapa pertanyaan:
Apa yang menyebabkan Anda stres? Bagaimana Anda bereaksi dalam situasi
tertentu? Apa biasanya yang Anda lakukan ketika Anda merasa stres?
Sebuah
program manajemen Stres tidak bisa dianggap enteng. Dibutuhkan komitmen
untuk mengelola dan mengurangi stres, tetapi juga membutuhkan komitmen untuk
mengurangi risiko kesehatan. Dengan mengontrol stres, kita berada dalam
sebenarnya mengendalikan kesehatan kita.
Program
pengelolaan stres terdapat enam jangkauan, yaitu perilaku, manajemen waktu,
aktivitas fisik, nutrisi, dukungan sosial, dan relaksasi. Ada beberapa cara
lagi yang dapat dilakukan untuk menurunkan tingkat stress seperti menumbuhkan
rasa humor yang ada didalam diri kita, lalu membuat catatan stress ketika kita
tidak bisa meluapkannya secara langsung.
